Pameran

Agama dalam Masyarakat Plural: Perspektif Indonesia

Teks: Claudia Seise

Ide pameran virtual muncul secara spontan saat bertemu dengan Dr. Saskia Schäfer, Dr. Thomas Stodulka dan Prof. Mohammad Gharaibeh untuk membahas proyek Demokrasi dan Inisiatif Antaragama (Democracy and Interreligious Initiatives), yang didanai oleh Aliansi Universitas Berlin (Berlin University Alliance). Seperti dengan banyak proyek lainnya, Covid 19 (Corona) telah memaksa anggota kelompok proyek kami untuk mencari cara baru, alternatif dan kreatif untuk menghidupkan proyek ini meskipun keadaan baru yang membatasi untuk menyajikan hasil yang menarik. Kemudian muncul ide untuk pameran virtual. Saya menekuni seni rupa modern Indonesia sejak saya kuliah di Yogyakarta, Jawa 2005-2006. Pada tahun 2008-2009 saya melakukan penelitian lapangan independen tentang seni rupa kontemporer Indonesia di Yogyakarta. Hasilnya muncul dalam buku One Year on the Scene: Contemporary Art in Indonesia (2010). Dalam penelitian saya selanjutnya, saya kemudian semakin beralih ke Islam di Indonesia. Pameran virtual Agama dalam Masyarakat Plural: Perspektif Indonesia kini menyatukan dua minat penelitian ini: seni dan agama, seni dan spiritualitas, seni dan Islam.

Karya seni 14 seniman dan seniwati dengan latar belakang geografis, agama, dan seni yang berbeda ditampilkan dalam pameran ini. Ketika memilih seniman dan seniwati, saya mencoba untuk mencerminkan pentingnya keragaman yang mendasar di kepulauan Indonesia. Empat dari 14 seniman adalah perempuan. Seringkali di Indonesia laki-laki menjadi seniman dan perempuan jarang memilih kuliah seni. Kebanyakan dari 14 seniman di pameran ini adalah Muslim. Persentase ini juga mencerminkan masyarakat Indonesia. Empat seniman adalah baik Kristen, Hindu atau mengikuti sistem kepercayaan Jawa. Para seniman dan seniwati tersebut berasal dari Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan dan Sulawesi. Selain lukisan, pameran juga menampilkan seni grafis, lukisan kaca dan patung.

Dengan adanya pameran virtual ini, saya berharap dapat memberikan kontribusi kreatif terhadap komunikasi sains yang tidak berhenti pada batas meringkas hasil-hasil ilmiah, tetapi lebih pada praktik mendengarkan dan menonton secara aktif. Menambahkan perspektif artistik untuk penelitian tentang inisiatif antaragama di Indonesia memperluas keahlian tentang inisitatif-inisiatif interreligi dan pemahaman tentang demokrasi dari perspektif agama dan kepercayaan. Penyeberangan batas-batas linguistik melalui seni visual menawarkan kemungkinan membangun jembatan dan saluran komunikasi baru. Dalam pengertian ini, pameran „Agama dalam Masyarakat Plural“ juga dapat dipahami sebagai instrumen penelitian. Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Berlin University Alliance dan Dr. Saskia Schäfer atas kesempatannya untuk menyelenggarakan dan mengkurasikan pameran virtual ini. Terima kasih juga saya ucapkan khusus kepada 14 seniman dan seniwati yang meluangkan waktu dan energi kreatif mereka untuk proyek ini. Dankeschön!

Indonesia

Indonesia adalah negara kepulauan di Asia Tenggara, dibatasi oleh Samudra Hindia di barat dan Samudra Pasifik di timur, terletak di Cincin Api Pasifik dan memiliki aktivitas vulkanik dan tektonik tertinggi di dunia. Negara ini membentang dari ujung paling utara di Sumatera, Aceh, hingga Papua Barat dan mencakup lebih dari 17.000 pulau berpenghuni dan tidak berpenghuni. Indonesia adalah rumah bagi sejumlah besar kelompok etnis, agama, budaya dan bahasa dan telah berdiri sebagai negara resmi sejak 17 Agustus 1945. Keragaman yang tersebut diatas adalah di bawah payung dalam semboyan nasional Bhinneka Tunggal Ika, di bawah ideologi negara Pancasila. Sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebagian besar orang Indonesia mengaku memeluk Islam. Penganut Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan pengikut Konfusianisme dan sistem kepercayaan lokal juga dapat menjalankan iman mereka masing-masing. Di beberapa daerah di Indonesia, agama selain Islam, yang di tingkat nasional menjadi minoritas, menjadi mayoritas. Misalnya di Bali yang sebagian besar penduduknya menganut agama Hindu Bali.

Rujukan ideologi nasional Indonesia juga dituangkan dalam karya seni beberapa seniman dan seniwati dalam pameran ini dan dipahami sebagai pondasi penting bagi kerukunan nasional dan toleransi beragama. Misalnya, dalam konsep karyanya “Pohon Kehidupan”, seniwati Budiasih menggambarkan Pancasila sebagai „wadah yang menjadi sarana keterhubungan antar keyakinan dan keimanan di Indonesia untuk mencapai cita-cita hidup bersama“. Dalam karyanya “6+1 ID Card”, seniman grafis Syahrizal Pahlevi juga mengacu pada Pancasila. Menurutnya pilar pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, secara de facto menetapkan bahwa semua orang Indonesia harus mencantumkan agama mereka di KTP. Menurut seniman, ini berarti bahwa agama setiap warga negara harus diumumkan. Publikasi ini, menurut seniman Pahlevi, juga dapat menyebabkan diskriminasi atas dasar agama. Seniman Robert Nasrullah juga menghubungkan karyanya “Ta’aruf: Saling Mengenal” dengan Pancasila. Menurutnya Pancasila sebagai payung yang diperlukan biar semua agama dan sistem kepercayaan di Indonesia dapat diberi perlindungan negara.

Agama, kepercayaan, dan spiritualitas merupakan unsur yang sangat mendalam di dalam kehidupan bangsa Indonesia. Doa, koneksi ke dunia gaib, latihan spiritual dan keyakinan yang mengakar adalah bagian integral dari kehidupan sebagian besar orang Indonesia. Pada saat yang sama, menganut suatu agama atau kepercayaan juga dipandang sebagai prasyarat untuk mempelajari nilai-nilai toleransi dan menghormati orang-orang yang berbeda keyakinan untuk menjadi bagian dari kebersamaan yang harmonis. Dapat dikatakan bahwa letak geografis kepulauan Indonesia telah berkontribusi pada keterbukaan dan toleransi terhadap ide-ide baru dan berbeda. Indonesia terletak di Jalur Sutra maritim. Berarti Indonesia zaman modern ini berada di jalur perdagangan yang tumbuh secara historis dan yang menghubungkan wilayah kepulauan Indonesia dengan dunia Arab, Afrika, Eropa dan bahkan mungkin dengan Amerika Latin.

Seniman Sindu Siwikan menulis dalam konsepnya untuk karya patungnya dengan judul “Dialog” bahwa, menurutnya, letak geografis berkontribusi pada fakta bahwa orang Indonesia pada umumnya sangat ingin tahu dan terbuka terhadap orang lain. Dan dia melihat toleransi terhadap praktik keagamaan dan pluralitas asal-usul seseorang, agama dan bahasa sebagai hasil yang mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia. Meskipun pentingnya toleransi yang disebutkan oleh beberapa seniman dan seniwati ini, ada juga konflik dan seperti yang disebutkan Syahrizal Pahlevi, diskriminasi dalam masyarakat Indonesia. Bagaimanapun, hal tersebut tidak meniadakan perjuangan yang melekat untuk kerukunan, bukan hanya melalui Pancasila dan pengakuan setiap kepercayaan yang menuju kepada Tuhan Yang Esa. Tetapi kerukunan yang mengakar itulah memungkinkan gagasan, sistem kepercayaan, dan agama baru masuk ke dalam masyarakat kepulauan Indonesia dan kemudian disesuaikan dengan keadaan, tradisi, dan gagasan setempat. Dalam hal ini, masyarakat Indonesia sangat menerima, tetapi sangat berhati-hati untuk menjaga kemandirian, kebebasan, dan keaslian budaya, spiritual dan agama mereka.

Agama di Ruang Publik

Sejak studi saya di Institut Seni Indonesia pada tahun 2005-2006 saya telah tinggal, meneliti dan bekerja di Indonesia selama lebih dari lima tahun. Satu hal menjadi sangat jelas bagi saya: agama, kepercayaan, dan spiritualitas dalam dimensi yang berbeda-beda, merupakan bagian penting, integratif dan tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Keyakinan yang dipraktikkan secara publik ini sama sekali tidak homogen. Bahkan Islam sebagai agama mayoritas di banyak bagian Indonesia tidaklah homogen. Dalam karyanya “Twilight at the Harbor”, seniwati Rina Kurniyati ingin mengartikulasikan keragaman budaya, agama, dan kehidupan profan di Indonesia. 15 lukisan kaca terpisah, yang menunjukkan berbagai jenis mobil dengan warna berbeda, menjadi sebuah karya seni. Setiap gambar dapat dilihat sebagai karya sendiri. Namun, semua 15 gambar dengan semua 15 jenis mobil juga dapat dilihat bersamaan sebagai sebuah karya seni yang terdiri dari 15 keping. Sebuah karya seni yang mengesankan dengan variasi dan permainan warna dan di mana setiap mobil menyatu menjadi sebuah karya seni. Simbolismenya sangat dalam namun begitu sederhana. Rina menulis dalam konsepnya: „Kata “terakhir” dalam judul karya ini menyiratkan soal hasil akhir, tentang masa dimana semuanya berkumpul saling menghargai. Setiap elemen memperlihatkan keunikan. Karena itulah sesungguhnya hakikat saling menghormati perbedaan, yakni keindahan warna warni“.

Seniman Robert Nasrullah menggambarkan fenomena ini dengan analogi lain, yaitu kanvas putih, yang dicat dengan warna yang berbeda-beda. Dengan menggunakan warna-warni, menurut seniman ini, sebuah karya yang indah dan bermakna dapat tercipta. Melalui proses seni, secara tidak langsung kami belajar bahwa perbedaan keyakinan bukanlah halangan bagi kita untuk tetap bersatu dan saling membantu, tulis Robert Nasrullah dalam konsepnya untuk “Ta’aruf: Saling Mengenal”. Seniman Fika Ariestya Sultan juga menemukan analogi yang cocok untuk keragaman agama dan spiritual di Indonesia: padang bunga yang ia gambarkan dalam dua karyanya. Dia menulis: “ Manusia itu sempurna seperti bunga di padang ilalang, tumbuh dan kembang diantara mereka menjadikannya indah dan saling melengkapi. Plural itu asik, jika kita menempatkannya atas dasar pemahaman cinta yang luas (Ya Rahman) dan cinta yang mendalam (Ya Rahim)“.

Rumah Ibadah dari berbeda agama sering ditemukan saling berdekatan di Indonesia dan membentuk ruang publik keagamaan. Salah satu fenomena yang menarik adalah masjid-masjid tradisional Jawa yang dibangun dalam bentuk pendopo, tanpa menara atau kubah. Pendopo adalah bagian dasar dari arsitektur Jawa dan secara tradisional merupakan tempat untuk ritual dan upacara keagamaan, tetapi juga digunakan untuk menerima tamu. Pendopo dapat berdiri sendiri atau menjadi bagian dari rumah adat Jawa. Ini adalah contoh menarik bagaimana lokalisasi Islam di Jawa telah terwujud di ruang publik berupa masjid dalam konstruksi tradisional. Elemen pendopo dapat ditemukan di banyak masjid. Atap runcing khas Jawa yang mengingatkan pada bangunan candi, juga banyak ditemukan di masjid-masjid tradisional di Jawa, tetapi juga di Sumatera, misalnya di Palembang. Contoh menariknya adalah Masjid Agung di Kota Gede, Yogyakarta di Pulau Jawa dan Masjid Agung di Palembang, Sumatera Selatan. (lihat Gambar)

Mesjid Agung Kota Gedhe, Yogyakarta
Mesjid Agung, Palembang

Namun bukan hanya tempat ibadah, masyarakat Indonesia sendiri mencerminkan iman dan spiritualitas di ruang publik. Banyak perempuan memakai jilbab dan dengan demikian secara sadar dan percaya diri menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari umat Islam. Anda juga bisa melihat pria muslim mengenakan tutup kepala khas peci. Orang-orang beragama Kristen sering memakai salib dan umat Hindu juga memakai simbol-simbol agama, misalnya butiran beras khas di dahi mereka, yang ditekan dengan air setelah doa tradisional. Dalam pidato publik, sapaan tertentu digunakan untuk mencoba mencerminkan keragaman agama; misalnya „Assalamualaikum“, „Salam Sejahtera“, dan „Om Swastiastu“.

Dengan teknik laker, seniman Suparman menampilkan keragaman budaya dan aliran spiritual yang berbeda di Indonesia dalam bentuk festival budaya. Tokoh dengan topeng dan kostum tradisional menari bersama di ibu kota Jakarta. Di latar belakang Anda dapat melihat simbol penting bangsa Indonesia, monumen nasional (Monas), yang melambangkan perjuangan kemerdekaan dan juga dapat dibaca sebagai simbol persatuan Indonesia. Monas dirancang oleh Friedrich Silaban dan R.M. Soedarsono. Di sebelah kanan gambar Anda dapat melihat monumen Dirgantara, yang juga dikenal sebagai patung Pancoran. Ini dirancang oleh seniman Indonesia Edhi Sunarso dan diselesaikan pada tahun 1966. Patung kedua ini melambangkan kemajuan teknologi bangsa Indonesia, khususnya dalam kaitannya dengan kedirgantaraan.

Monumen Nasional adalah simbol sentral bangsa Indonesia dan menjadi elemen kunci dalam ruang publik dan kesadaran kolektif penduduk Indonesia. Berulang kali Monas disebut dalam lingkup agama dan non-agama dan diberikan interpretasi pribadi dan religi. Seniman Indonesia Askanadi, misalnya, yang tidak mengikuti pameran ini, memaknai tugu nasional sebagai simbol religiositas penduduk Indonesia. Karyanya yang berjudul “Ritual…” melihatkan Monas dengan gaya abstrak simbolis. Menurutnya, kolom yang mengarah ke atas melambangkan hubungan vertikal dengan Tuhan dan fondasi yang reseptif (sifat menerima) melambangkan hubungan horizontal dari unsur budaya, agama, etnik dll. di Indonesia (lihat gambar). Terlepas dari agama atau sistem kepercayaan yang dimiliki seseorang, semua orang Indonesia bersatu dalam bagian horizontal monument yang reseptif dan bersatu di dalam hubungan vertikal mereka dengan Tuhan.

Askanadi //Ritual // Acryl auf Leinwand // 150 cm x 200 cm

Sebuah interpretasi simbolisme Monas yang diterima pada umumnya dari dan dipinjam dari tradisi Hindu, adalah simbolisme lingga, yang secara kosmologis berarti unsur laki-laki, dan yoni, yang berarti unsur perempuan. Dari perspektif Islam-teologis, Tugu Monas menurut saya juga bisa diartikan sebagai huruf Arab Alif dan Ba. Dalam ilmu simbolisme ortografi Arab, Alif adalah singkatan dari kenaikan Firman Ilahi dari bumi ke Transendensi Ilahi. Ba melambangkan unsur penerima di dunia manusia dan penerimaan ke dalam bahasa manusia dan dengan demikian disucikan (Dalam: The Study Qur’an; Nasr, 2015: xxxiii). Basis dibawah unsur reseptif (yoni) juga dapat dipahami sebagai titik di bawah huruf Arab Ba, yang melambangkan titik pertemuan dua huruf Alif dan Ba. Di sanalah unsur vertikal, yaitu hubungan dengan Tuhan, dan unsur horizontal, yaitu penerimaan firman Tuhan di dunia manusia, bersatu. Tataran vertikal dan horizontal dan keterkaitannya dengan Tuhan dan pengalaman Ketuhanan di dunia ini juga dibahas secara langsung maupun tidak langsung oleh beberapa seniman dan seniwati dalam pameran ini.

Seniman Ariyadi alias Cadio Tarompo, misalnya, menunjuk pada hubungan vertikal dan horizontal antara manusia dengan Sang Pencipta dan ciptaan, dan khususnya manusia. Dalam karyanya “Hablumminallah wa Hablumminannas” ia menjelaskan perspektif Islam dan menunjukkan hal-hal mendasar yang penting dari ajaran Islam: 1. Tidak ada paksaan dalam agama (Al-Qur’an 2: 256) dan 2. perlunya saling toleransi antar pemeluk agama yang berbeda (Quran 109: 6). Dia juga melihat ideologi negara Indonesia, yaitu Pancasila, sebagai suatu keharusan dalam rangka melestarikan dan melindungi keragaman agama di Indonesia.

Alam dan spiritualitas

Alam dengan segala kekayaan, daya tarik dan ancaman bagi kehidupan manusia memainkan peran khusus di Indonesia. Gunung api, arsitek dunia yang memberi manusia bumi yang subur, laut, sawah, sungai dan anak sungai, gunung dan hutan, flora dan fauna yang kaya tidak hanya menjadi latar belakang kehidupan manusia, tetapi juga menjadi ruang spiritual dan publik untuk kehidupan religi. Namun, cinta dan penghormatan terhadap alam tidak bisa disamakan dengan ibadah dan menganggap ada kausalitas ilahi. Hubungan yang mendalam dengan alam seringkali disalahartikan sebagai animisme oleh para orientalis. Padahal hubungan dengan alam tersebut berdasar pada pemahaman antargenerasi yang mengakar secara mendalam. Hubungan dengan alam itu ternyata mencakup pemahaman tentang pilar pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Terutama dalam tradisi Jawa berbagai komponen dan makhluk alam itu dianggap sebagai saudara (sedulur) manusia, yang mesti dihormati manusia dan darinya manusia dapat belajar. Karena dalam realitas kosmologis ciptaan selain manusia adalah lebih tua dari ciptaan manusia. Oleh karena itu, manusia harus berusaha untuk bergaul secara harmonis dengan berbagai komponen alam. Dan karena dalam tradisi Indonesia dan khususnya Jawa, rasa hormat dan kekaguman terkait terutama dengan usia, saudara di alam yang lebih tua harus menerima perlakuan khusus. Ini tidak boleh disamakan dengan menyembahnya. ‘Membalut’ pohon-pohon tua yang besar dengan kain sarong, misalnya, merupakan ungkapan rasa hormat terhadap anggota keluarga ciptaan yang lebih tua.

Koeksistensi dan hubungan horizontal manusia dengan ciptaan lainnya juga berperan penting dalam karya seniman I Wayan Legianta. Dia menjelaskan bahwa dalam agama Hindu Bali, Tuhan hadir dalam setiap makhluk hidup melalui jiwa ilahi yang disebut Atman. Lebih lanjut dia menulis bahwa Atman dapat dipahami sebagai percikan kecil Tuhan yang memberi kehidupan kepada setiap makhluk hidup, termasuk manusia. Oleh karena itu, menurut I Wayan Legianta, sangat penting untuk menghormati dan menghargai setiap makhluk hidup dan keanekaragaman ciptaan, karena apresiasi ciptaan ini mengarah pada pemujian Tuhan sendiri. Warna, torehan, dan lapisan warna yang berbeda menyatu menjadi suatu kesatuan dan menerimanya sebagai suatu yang harmoni. Melalui sikap berbaur tanpa indentitas keagamaan maupun posisi, dengan memandang kemanusian sebagai iman, saling menghargai dan menghormati akan menampakan keharmonisan, dengan keyakinan, keberagaman adalah sesuatu yang indah. Kesimpulannya, sebenarnya setiap orang mencari hubungan vertikal dengan Tuhan.

Seniwati Franziska Fennert juga mencerminkan hubungan horizontal dengan ciptaan dan hubungan vertikal dengan Sang Pencipta dalam karyanya “Penyembuhan”. Dengan karyanya seniwati ini ingin menunjukkan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan dan semua makhluk lainnya. Menurutnya, setiap elemen kosmos bersaksi tentang keberadaan Tuhan. Bentuk karyanya adalah setengah lingkaran dan mengingatkan pada jendela gereja. Dengan demikian melambangkan yang ilahi. Tanggung jawab manusia terhadap alam juga merupakan tanggung jawab spiritual, baik dalam spiritualitas tradisional Jawa maupun dalam Islam. Dengan demikian, spiritualitas ruang alam menjadi spiritualitas ruang publik alam.

Iman dan Spiritualitas Pribadi

Agama, kepercayaan dan spiritualitas juga memainkan peran penting dalam kehidupan individu dan mempengaruhi masyarakat melalui orang tersebut, tindakannya, perilakunya, interaksinya, kata-katanya, dll. Dengan cara ini, ruang publik dibentuk oleh individu-individu pada tingkat mikro. Seniman Anggara Tua Sitompul, misalnya, dalam karya seninya “Introspeksi” merefleksikan pentingnya memperoleh uang sebagaimana diperbolehkan agama sehingga meraih berkahnya. Dalam konsepnya ia menyampaikan kritiknya berupa keheranan bahwa banyak umat beragama justru mencuri dan menggelapkan uang rakyat. Kesimpulannya: banyak orang yang beragama tetapi tidak beriman karena menganut suatu agama tetapi tidak menerapkan ajaran agama tersebut dalam kehidupan mereka sendiri.

Dalam karyanya “Simpul Vertikal”, seniman Rudi Maryanto juga merefleksikan afiliasi keagamaannya dan menempatkan simbol kiblat, yaitu Ka’bah, di tengah karyanya. Agama dan sistem kepercayaan lain juga memiliki simbol yang melambangkan mereka di ruang publik dan kesadaran kolektif.

Seniwati Laila Tifah menggambarkan pengaruh setiap individu di dalam masyarakat dalam karyanya “Tidak…”. Dia membandingkan manusia dengan gunung es, hanya ujungnya yang terlihat oleh orang lain. Bagian yang terlihat ini disamakan dengan bahasa tubuh kita, perilaku kita dan tindakan serta keputusan kita. Sebagian besar gunung es tidak terlihat. Namun, bagian tak kasat mata ini menentukan bagaimana kita bertindak, berperilaku, dan mengambil keputusan. Kata ‘tidak’ dalam karyanya menjadi sesuatu yang positif bila dipadukan dengan sifat-sifat negatif untuk menjaga keharmonisan dalam masyarakat Indonesia. Misalnya tidak merasa benar sendiri, tidak menghalangi orang lain melakukan ibadah, tidak melakukan tindakan intoleransi, tidak menindas, tidak arogan.

Seniman Muhammad Andik membawa aspek penting lain ke dalam diskusi tentang agama dan kepercayaan dalam masyarakat pluralis, yaitu pendidikan agama. Dalam karya seninya “Sang Mursyid” seniman ini merefleksikan pentingnya seorang guru spiritual bagi perkembangan spiritual seseorang dari perspektif Islam. Dalam karyanya kita melihat orang berpakaian tradisional duduk dalam lingkaran siswa. Skema warna, lengkungan runcing di latar belakang dan pakaian tradisional Sufi tampak mistis dan pengamat bertanya apa yang diajarkan dan dipelajari di sana. Dalam konsepnya, Muhammad Andik menulis bahwa tugas seorang Mursyid adalah mendidik para salik (pencari ilmu haqiqa) yang bersungguh-sungguh untuk mengenal Tuhan, untuk memahami jalan-jalan spiritual menuju Tuhan, membimbingnya, mendidik dan menempa jiwanya. Mursyid memimpin para salik dengan tekad dan disiplin. Jalan ini diawali dengan proses penyucian jiwa (tazkiyah al-nafs) hingga para salik mencapai pemahaman yang mendalam (ma’rifat) tentang Al-Haqq (salah satu nama-nama Tuhan).

Saya akhiri pembahasan singkat saya tentang pameran ini dengan pentingnya pendidikan, meskipun masih banyak yang ingin saya sampaikan. Saya berharap para pengunjung pameran virtual ini senang melihat karya dan membaca konsepnya. Harapan saya pameran ini bisa sedikit memberi kontribusi bagi dialog dan pemahaman antaragama. Sekalipun masyarakat Indonesia tentu saja tidak sempurna, keinginan dan perjuangan untuk kerukunan adalah kualitas khusus yang dibudayakan tanpa memandang agama atau kepercayaan. Beberapa seniman telah menunjukkan dalam konsep mereka bahwa ide-ide dan ideologi yang ‘diimpor’ dari luar kadang-kadang mencoba untuk menyerang perjuangan untuk harmoni dan toleransi terhadap perbedaan pemikiran, keyakinan dan keagaaman. Serangan-serangan ini membuat semakin penting untuk melestarikan, memupuk dan mengajarkan toleransi dan keterbukaan yang tumbuh secara historis dan mapan dan meneruskannya kepada generasi muda.

Claudia Seise memiliki gelar S3 di bidang Asia Tenggara dan saat ini bekerja sebagai peneliti di kelompok penelitian junior “Perspektif tentang Keragaman Agama dalam Teologi Islam” di Institut Teologi Islam Berlin di Universitas Humboldt di Berlin.

Lanjut ke karya seni
Lanjut ke profil seniman